facebook40 twitter40 google40 pinteres40 youtube40 instagram40

RESMI BUKA FSI 2016 Mendikbud Inginkan Pendidikan Berimbang

Berita FSI 2016
Typography

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendy menginginkan pendidikan yang lebih berimbang, yakni tidak hanya terpaku pada baca, tulis dan hitung saja, namun juga memperhatikan sisi etik, estetik dan kinestetik untuk melahirkan generasi baru yang jauh lebih hebat pada tahun 2045.

Hal tersebut diungkapkan Mendikbud pada sambutannya saat membuka Festival Seni Internasional (FSI) 2016 di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Pendidik Seni Budaya (PPPPTK SB), Senin (21/11). Pembukaan ini juga dihadiri Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Sumarna Surapranata PhD, Bupati Sleman Sri Purnomo dan tamu undangan lainnya.

Pendidikan kita sudah terlalu lama terpusat pada tiga hal, yaitu baca, tulis dan hitung. Kenapa ini terjadi karena memang sistem pendidikan formal kita mewarisi sistem pendidikan pada awal pemerintahan, dimana saat itu kita sedang giat-giatnya melakukan pemberantasan buta huruf. Pada waktu itulah sekolah-sekolah lebih menekankan pada membaca, menulis dan menghitung,” ungkap Mendikbud.

Menurutnya, ada tiga hal yang terabaikan dan tidak mendapat perhatian yang cukup, yaitu etik, estetik dan kinestetik. Etik berkaitan dengan tata nilai, sopan santun, tata krama dan adat istiadat. Estetik menyangkut masalah keindahan dan cita rasa. Sedang kinestetik meliputi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penguatan fisik. Ketiga hal ini banyak diabaikan termasuk dalam sistem penilaian di sekolah.

“Orang tua kadang sangat bangga jika anaknya mendapat nilai 10, namun tidak begitu bangga ketika nilai menyanyinya 10. Orang tua malu jika nilai matematikan anaknya mendapat nilai 5, namun tidak malu jika mennyanyi yang mendapat nilai 5.  Pengajaran kita sudah tersesat, padahal pendidikan berimbang sangat penting. Satu sisi jasmani dan rohani, antara otak kanan dan otak kiri, antara baca tulis dan hitung dengan etik, estetik dan kinesteti di sisi lain,” jelasnya.

Selama mendapatkan kepercayaan dari Presiden RI Joko Widodo yang meminta menterjemahkan visi beliau seperti tercantum dalam nawacita, Mendikbud menandaskan akan mengubah paradigma pendidikan di tingkat SD, SMP dan SMA maupun SMK ke arah pendidikan yang lebih berimbang.  Sehingga dalam hal ini, peranan guru seni menjadi sangat penting dan sangat dibutuhkan dalam rangka membangun pendidikan yang berimbang.

Insya Allah kalau ini bisa dilaksanakan dengan baik, akan lahir generasi-generasi yang lebih bahagia, lebih menjanjikan dan lebih mampu bersaing saat indonesia nanti memasuki usia 100 tahun, yakni pada 2045,” ucapnya.

Mendikbud pun mengaku, dimanana-mana selalu menyatakan keinginannya untuk melahirkan generasi baru yang jauh lebih hebat pada tahun 2045, dibanding generasi sekarang ini. “Itulah mimpi kita, tugas kita sekarang membangun impian untuk generasi yang akan datang. Itulah tugas pendidikan dan pendidikan tidak bisa dipanen dalam waktu dekat. Tidak seperti menanam jagung atau padi yang 3 bulan sudah bisa dipanen, tapi pendidikan seperti menanam jati, Karena yang ditanam generasi, maka panennya bisa 20 atau 30 tahun mendatang bahkan 100 tahun lagi. Kita sekarang sedang menggerakan kegiatan seni di sekolah-sekolah dan panennya tidak 2 atau 3 tahun lagi,  tapi 20 ata 30 tahun mendatang,” pungkas Mendikbud.

Sebelum resmi dibuka Mendikbud dengan pemukulan gong, dipersembahkan tarian selamat datang bertajuk Colours of Butterfly. Sedang setelah pemukulan gong, dipersembahkan garapan tari berjudul Tittari menampilkan seniman kondang Didik Nini Thowok, melibatkan tidak kurang dari 100 penari dan seniman dari ISI, SMKI, UNY, UAD, UII dan sejumlah sanggar tari yang ada di DIY. Kemudian malamnya di halaman PPPPTK SB ditampilkan pentas musik Jikustik berkolaborasi dengan orkestra dari SMM Yogyakarta.

Prosesi pembukaan itu pun berjalan meriah dan disambut antusias tamu undangan maupun penonton. Seusai pementasan, Mendikbud didampingi Dirjen GTK. Bupati Sleman dan Kepala PPPTK Salamun SE, MBA, PhD menyempatkan berbaur dan berbincang-bincang dengan para penari dan pemusik, termasuk koreografer Anter Asmorotedjo. (Janu)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS