Belajar dan Bermain

Gustav, Bermain, SDN Sapen Yogyakarta

Pendidikan
Typography

Oleh: Dr. Toto Sugiarto Arifin, M.Hum, Tulisan ringan ini dipersembahkan bagi anak-anak yang merayakan Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli 2017. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap hak tumbuh kembang anak, yang telah disepakati dalam Konvensi Hak-hak Anak. Konvensi ini merupakan salah satu perjanjian Internasional yang dihasilkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Di Indonesia, konvensi ini dimuat dalam Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Conventional on The Rights of The Child, diperkuat dengan Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2003.  Sesuai dengan kategori hak-hak anak yang dikeluarkan oleh UNICEF (badan PBB yang khusus menangani anak-anak), hak tumbuh kembang anak meliputi: all kind of education (formal and non-formal) and the right to a standard of living which is adequate for child’s physical, mental, spiritual, moral and social development (semua jenis pendidikan -formal maupun nonformal- dan hak terhadap standar hidup sesuai dengan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial anak).

Seni dan hakekat kehidupan manusia

Alam ini dipenuhi dengan berbagai jenis mahluk hidup, salah satunya adalah manusia.  Dalam menjalani kehidupannya manusia berbeda dengan mahluk hidup lainnya.  Manusia hidup dengan kemampuan cipta, rasa, dan karsa, sedang mahluk lainnya hidup dengan menggunakan nalurinya. Dengan kemampuan yang dimilikinya itu manusia mampu menciptakan apa yang menjadi kebutuhannya. Psikologi lahir karena kebutuhan akan pengetahuan mengenai jiwa, proses mental, dan perilaku manusia. Antropologi lahir karena ada kebutuhan akan pengetahuan tentang kebudayaan, peradaban, dan berbagai aspek kehidupan manusia, sedangkan seni lahir karena adanya kebutuhan untuk mengungkapan pikiran dan perasaan melalui berbagai jenis media yang berhubungan dengan pancaindera, media yang dapat dilihat, didengar, diraba, dibau, dan dikecap.  Kelima indera yang dimiliki manusia itu ingin dipuaskan, untuk keperluan itu, manusia merubah dan menyusun kualitas material dari yang berkualitas apa adanya menjadi memiliki kualitas berbagai jenis rasa.  Dengan demikian, lahirlah seni rupa, seni musik, seni tari, seni teater, seni sastra, fesyen, dan seni boga yang semuanya bertujuan memberikan kenikmatan kepada kelima rasa yang dimiliki manusia. Kemudian nilai rasa tersebut (terutama yang berhubungan dengan pendengaran dan penglihatan) oleh para ahli estetika disebut sebagai rasa keindahan,  “the sense of pleasurable ralation is the sense of beauty'” (Read, 1972).  Hal-hal yang membuat manusia mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam wujud karya seni disebabkan sejak lahir manusia telah dibekahi oleh alam kemampuan untuk itu. 

Seni dan Pendidikan

Minimal tiga hal penting yang perlu dimiliki oleh peserta didik dalam pendidikan formal, yaitu logika, etika, dan estetika. Logika berkaitan dengan kebenaran, etika berkenaan dengan kebaikan, sedangkan estetika berkaitan dengan keindahan. Walaupun dalam kenyataan kehidupan sehari-hari ketiga hal tersebut tidak dapat dikelompok secara tegas, karena dalam logika juga terkandung keindahan, dalam etika juga terkandung kebenaran, begitu juga estetika tidak sekedar indah, tetapi harus juga menunjukkan pendidikan moral yang membangun peradaban.

Pendidikan seni tidak hanya dilakukan di sekolah, justru ruang yang lebih luas berada di rumah, sehingga peran orang tua begitu penting dalam pengembangan potensi seni anak. Orang tua perlu menyediakan ruang-ruang untuk aktivitas seni, tanggap terhadap karya anak, dan menyimpan contoh-contoh karya anak. Orang tua harus sadar bahwa seni bukan sekedar mencapai hasil-hasil yang nampak berseni, penekanannya harus pada proses kreatif bukan (Beal, 2003:19) bukan pada hasil akhir. Ketika anak-anak bertumbuh, mereka dapat melakukan segala jenis hal baru dengan bahan lama (Beal, 2003:17), karena kreativitas tidak akan pernah berhenti, anak-anak dapat membuat bentuk-bentuk baru dengan bahan dan teknik yang sama.

Apabila kita mencermati peta otak manusia dan potensi kecakapan yang dimilki oleh manusia, maka jelas sekali bahwa seni itu sangat penting bagi perkembangan kepribadian peserta didik.  Lowenfeld setelah kurang lebih dua puluh tahun mengamati kegiatan seni rupa anak menyimpulkan beberapa manfaat dari kegiatan seni rupa yang dilakukan oleh anak-anak.  Menurutnya dalam proses berkesenian anak melakukan kegiatan berfikir, merasakan, mempersepsi, dan memberikan reaksi kepada lingkungan sekitarnya.  Berdasarkan hal itu, ia merumuskan bahwa kegiatan seni rupa dapat digunakan untuk mengamati perkembangan anak dalam hal emosi, intelektual, fisik, persepsi, sosial, estetik, dan kreativitasnya (Lowenfeld, 1987:5).  Sebagaimana Sudjojono sampaikan bahwa “Kesenian adalah jiwa ketok” artinya kesenian adalah jiwa pembuat karya yang nampak, seperti gagasan, ideologi, pandangan hidup, keinginan, kesedihan, cita-cita yang terlihat dalam karya-karyanya.

Belajar dan Bermain

Bermain merupakan ciri dari anak-anak, bagi anak belajar itu melalui bermain.  Ahli pendidik menyebut bahwa bila ingin mendidik seseorang, sebaiknya melalui apa yang disukai orang itu, karena anak suka bermain, jadi bagi anak belajar lebih tepat melalui bermain.  Selain itu, bermain memadukan kesadaran, ambang sadar dan ketidak sadaran, ia seakan santai, seakan tidak serius.  Psikologi kini sudah menemukan bahwa proses terpenting dalam proses belajar adalah saat ambang sadar dan ketidak sadaran kita bekerja “memamah biak” apa yang dipelajari sebelumnya.  Oleh sebab itu, bermain merupakan suatu anugerah Tuhan, yang seandainya kita lahir langsung serius belajar, kita akan sulit jadi pandai, sebab bawah sadar dan ketidak sadaran kita tidak terlibat.  Ini berarti kreativitas tidak telibat, imajinasi tidak terlibat (Primadi, 1999:24). 

Bagi anak-anak kegiatan bekerja, belajar, dan bermain mempunyai perbedaan yang sangat tipis.  Seperti kita ketahui bersama, anak-anak “hanya” mengenal kegiatan bermain, berbeda dengan kita (orang dewasa)  yang secara jelas membedakan antara kegiatan “bekerja” dan “bermain”.  Selama ini para orang tua (orang dewasa) masih melihat bahwa anak yang baik pintar, cerdas.  Adalah anak-anak yang senantiasa mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan “serius” yang penuh  tugas dan tanggung jawab.  Padahal  bermain itu dunia mereka, hak mereka dan dengan keterampilan dan pengetahuannya yagn masih serba terbatas, anak melakukan aktivitas bermain, justru untuk memperoleh sebanyak-banyaknya informasi tentang dunia sekitarnya  termasuk siapa dirinya (Asfandiyar, 1999:13).  Bermain merupakan suatu  cara bagi anak terdidik dalam berbagai segi, seperti jasmani, intelektual, emosi, sosial termasuk kreativitas  dan hal tersebut menjadi kebutuhan bagi proses perkembangan dan kematangan seorang anak. Bagi anak-anak, bermain itu sebuah keseriusan dan serius itu ya bermain itu. Anak-anak mencoba dan menumbuhkan kenyataan, dunia fisik, melalui permainan dan seni (Currie dan Fosler (1975:8). Bermain menimbulkan kegembiraan (Karl Buhler & Schank Danziger), dan kegembiraan itu menjadi rangsangan bagi perilaku lainnya, misalnya perilaku senang berkreasi (Schaffensfreude). Bermain memungkinkan anak menyelesaikan masalah/menggulangi konflik (Sigmund Freud).

Dari bermain ke kecerdasan

Bagi anak-anak bermain merupakan proses belajar yang tidak memasalahkan hasil akhir.  Bermain selalu menyenangkan mereka, sehingga tak pernah menjadi “beban”.   Bermain dilakukan karena kesukarelaan, bukan paksaan.  Dalam bermain, aktivitas lebih penting daripada tujuan.  Tujuan bermain ya aktivitas itu sendiri.

Kita sering mendengar seorang bapak/ibu yang berkata, “ayo, sudah belajar belum? kok main terus sih,”. Ini adalah anggapan keliru tentang belajar, padahal sebagaimana dengan setiap pengalaman, maka bai anak bermain pun berfungsi sebagai sumber belajar, yaitu belajar melalui pengamatandan penghayatan dalam pengalaman.  Banyak sekali ahli yang mendukung bahwa kegiatan bermain mempunyai dampak positif dalam perkembangan anak.

Salah satunya yang sering dibicarakan orang, yaitu emotional intellegence (kecerdasan emosi) dengan melihat kecerdasan dari visi emosi kepribadian, perasaan, pengendalian diri, dibanding sekedar kecerdasan intelegensi (IQ) yang lebih cenderung mengutamakan hal-hal  yang bersifat verbal, logika dan matematika.  Adalah Howard Gardner yang terkenal dengan teori Multiple Intelligences-nya dan kemudian dilihat oleh Daniel Golemen sebagai teori kecerdasan emosi, yang intinya bahwa aktivitas seorang anak dalam mengeksplorasi lingkungannya, memahami dunianya, mengenal dirinya, mengatasi masalah pribadinya, mengekspresikan gagasan gagasan, bersosialisasi, kemampuan memimpin, lebih banyak dilakukan melalui proses-proses yang bersifat intuitif, analogis, bebas, acak, spontan, imajinatif dan terkadang tidak sistematis.  Semua itu biasanya muncul ketika seorang anak sedang bermain.

Pehatikan anak-anak yang sedang bermain “petak umpet”, di sini anak dihadapkan pada persoalan yang harus ia pecahkan, misalnya mereka harus bermusyawarah tentang prosedur yang harus dilakukan, fungsi dan tugas dari  penjaga dan yang bersembunyi. Penjaga menghitung sampai angka yang disepakati, sementara yang lain bersembunyi. Penjaga harus dengan lihai menjaga tempatnya agar tidak direbut oleh yang sedang sembunyi, begitu pula anak yang sedang sembunyi harus yakin bahwa tempatnya aman dari pantauan penjaga. Permainan ini butuh musyawarah dan mufakat,  kepandaian menghitung, kesehatan fisik, strategi menjaga dan bersembunyi, sehingga pemecahan problem itu dibutuhkan keyakinan dan semangat, serta imajinasi aktif.  Proses belajar, berfikir, berkreasi, dan membentuk memori adalah juga proses imajinasi (Primadi, 2000:3).

Beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pendidikan seni selain mengubah perilaku dan cita rasa peserta didik, tetapi juga berdampak terhadap kecerdasan entelektual peserta didik. College Entrance Examination Board melaporkan pada tahun 1996 bahwa peserta didik dengan pengalaman mengadakan pertunjukan musik mendapatkan angka 51 poin lebih tinggi dalam SAT kelompok verbal dan mendapatkan 39 poin lebih tinggi pada bagian matematika daripada rata-rata nasional. Dalam sebuah studi kepada lebih kurang 7500 peserta didik pada universitas ukuran sedang antara tahun 1983 dan 1988, peserta didik yang mengambil jurusan musik dan pendidikan musik mempunyai skor bacaan tertinggi di antara setiap peserta didik di kampus, termasuk peserta didik jurusan bahasa Inggris, biologi, kimia, dan matematika (Campbell, 2001:218). Masih banyak penelitian lainnya yang menunjukkan pembelajaran seni begitu berpengaruh terhadap kecerdasan intelektual. Hal ini sejalan dengan pemikiran dari Plato bahwa “Art should be the basis of education”.

Seni dalam pendidikan anak diarahkan pada manfaatnya yang besar dan efektif dalam perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, termasuk spiritual. Plato pernah berkata: “Sebaiknya seni menjadi dasar pendidikan”, mengapa? karena pendidikan bagi anak seharusnya mampu menarik perhatian mereka, menimbulkan suasana belajar yang dinamis, menggembirakan, mengugah emosi, fantasi dan kreasinya, dan menciptakan kesan yang mendalam bagi anak-anak, apakah itu seni rupa, seni suara maupun seni gerak.

Penutup

Belajar dan bermain bagi anak-anak tidak dapat dipisahkan, sehingga pembelajaran di sekolah haruslah menggembirakan, bagaikan bermain di dalam taman yang indah dan menyenangkan. Segala sesuatu yang dilakukan secara menyenanggkan, tentu saja hasilnya akan maksimal. Pembelajaran bukanlah kerangkeng yang mebelenggu kreativitas dan imajinasi, tetapi justru pembelajaran adalah membebaskan berfikir tanpa batas, menjelajahi seluk beluk kehidupan dan alam semesta,  sehingga mereka dapat menemukan makna-makna dibalik yang tersurat maupun tersirat.

Daftar Pustaka

Asfandiyar, Andi Yudha. 1999. “Bagi Anak-anak, Bermain = Belajar = Bercerita = Berkreasi” dalam Dunia Bermain Anak. Bandung: LPM-ITB.

Beal, Nancy dan Gloria Bley Miller. 2001. The Art of Teaching Art in Children in School and at Home, terj. Fretty H Panggabeans. 2003. Rahasia Mengajarkan Seni Pada Anak. Yogyakarta: Pripoenbooks.

Lowenfeld, Viktor .1982. Creative and Mental Growth. New York: Macmillan Publishing Company.

Tabrani, Primadi. 1999. “Berfikir dengan Bahasa Kata dan Bahasa Rupa” dalam Dunia Bermain Anak. Bandung: LPM-ITB.

________________. 2000. Proses Kreasi, Apresiasi, Belajar. Bandung: Penerbit ITB.

 

Oleh: Dr. Toto Sugiarto Arifin, M.Hum

Widyaiswara PPPPTK Seni dan Budaya, Sleman, Yogyakarta 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS